By administrator1  Article Published 01 February 2018
 
 

Pakaian Adat Batak Sumatera Utara


Halo moms!! Here’s Ju-Ni menulikan lagi mengenai pakaian tradisional adat Batak anak. Jangan bosen ya moms, karena budaya Indonesia itu super kaya.. Jadi pasti banyak banget yang dapat kita gali, walaupun tidak sampai ke kedalamanya, tapi paling tidak untuk nambah pengetahuan bagi moms dan juga anak tercinta.

Yuuk dibaca selengkapnya!!

 


Batak tidak terlepas dari ulos. Ulos itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam berbagai upacara adat. Ulos dibuat dengan cara ditenun. Sebelum masyarakat Batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari mereka. Untuk kaum laki-laki bagian atasnya disebut hande-hande, sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang, atau detar.

Ada beberapa jenis ulos Batak yang hanya dipakai pada acara tertentu, misalnya ulos jugjaragidup, sadum, ragihotang, dan runjat. Kain ulos yang dipakai umumnya dipakai dengan cara diselempangkan kepinggangnya atau juga bisa sebagai selendang. Khusus pada suku Batak Pakpak atau Dairi, ulos yang digunakan dominan berwarna hitam.


Lalu untuk suku Batak Simalungun, ulos yang dipakai adalah bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Selain bulang, ada juga ulos suri-suri sebagai penutup kepala.


Sementara itu, suku Batak Toba biasanya memakai baju dan celana yang dilengkapi dengan ulos maringin di kepala dan setengah badan. Kadang-kadang juga menggunakan ulos ragihotang yang diselempangkan dan dilengkapi dengan sarung.


Jadi suku Batak saja ada beberapa bunda, selama ini Ju-Ni pikir hanya satu, batak ya batak saja, ternyata terbagi lagi beberapa dan juga jenis pakaianya pun berbeda, yang sama hanyalah Ulos! hehehe..


Nah, jika dalam upacara adat perkawinan, kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Pengantin pria memakai baju jas tutup warna putih, sedangkan bagian bawah memakai ulos ragi pane. Pakaian perempuan Batak toba bagian bawahnya disebut haen yang dipakai hingga batas dada. Penutup punggung disebut hoba-hoba. Bila dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Penutup bagian kepala disebut saong. Sementara itu pakaian perempuan Batak karo terdiri atas baju tutup lengan panjang, sedangkan bagian bawahnya mengenakan sarung sungkit yang dililit kain ulos.


Menurut adat dalam pesta perkawinan, wanita suku Mandailing/ Angkola menggunakan bulang yang diikatkan ke kening. Bulang tersebut terbuat dari emas, tetapi sekarang sudah banyak yang terbuat dari logam dilapisi emas. Bulang terdiri atas tiga macam, yaitu bertingkat tiga (bulang harbo/ bulang kerbau), bertingkat dua (bulang hambeng/ bulang kambing), dan tidak bertingkat. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Bulang saja ada tingkatanya ya moms.. hehehe...

Bagian atas badan wanita tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu terbuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Baju pengantin ini disebut juga baju godang atau baju kebesaran. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan.


Nah itu dia moms, kurang lebih perkenalan adat istiadat di Indonesia salah satunya adat Batak, yang dari jenis pakaianya saja berbeda, apalagi jika membahas mengenai makanan-nya, wah..yummy ya moms!!



Regards,
 
Ju-Ni


Related Article